Showing posts with label parenting. Show all posts
Showing posts with label parenting. Show all posts

Kenapa Keluarga Wajib Datang ke Parentalk Festival 2025? (Bukan Sekadar Acara Biasa!)

instagram @parentalk.id

Di tengah rutinitas yang padat dan anak yang semakin akrab dengan gadget, banyak keluarga rindu suasana bermain dan ngobrol santai tanpa distraksi layar.

Kabar baiknya, Parentalk Festival 2025 kembali hadir dengan semangat baru untuk menyatukan keluarga melalui kegiatan yang seru dan edukatif. Festival keluarga yang digagas oleh Parentalk.id ini akan digelar pada 25 Oktober 2025 di Urban Forest Jakarta, dengan tema yang penuh energi dan kebahagiaan yaitu “Let’s Groove and Play.” Tujuan utamanya? Mengajak orang tua dan anak untuk pause sejenak dari dunia digital, lalu menikmati kembali kehangatan interaksi nyata di alam terbuka. Ini adalah quality time yang sesungguhnya!

Tahun ini, Parentalk Festival 2025 juga didukung oleh @cimoryindonesia, brand yang identik dengan kebaikan susu dan momen kebersamaan keluarga.

Terjebak antara pekerjaan dan screen time? Parentalk Festival 2025 adalah jawaban untuk recharge kehangatan keluarga tanpa harus jauh-jauh dari kota.

Apa Saja Keseruannya?

1. Mini Playground & Kids Activity

instagram @parentalk.id

Anak-anak bebas berlari, bereksplorasi, dan berkreasi lewat aktivitas bermain edukatif yang seru. Orang tua pun tak sekadar mengawasi, tapi ikut terlibat bermain bersama. Karena bonding terbaik bukan dari nasihat panjang, tapi dari tawa dan sentuhan kasih yang nyata.

2. Musik, Harmoni, dan Kedekatan Emosional

instagram @parentalk.id

Tahun ini, suasana makin semarak dengan penampilan spesial dari Quinn Salman dan music storytelling dari Little Essential (by Malik the Essential). Irama musik mengalun bukan hanya untuk hiburan, tapi juga sebagai cara alami mempererat hubungan emosional orang tua dan anak. Setiap nada, tawa, dan tepukan tangan jadi harmoni kebersamaan yang indah. Lewat musik, anak belajar mengekspresikan diri dan orang tua ikut larut dalam irama kebersamaan. Benar-benar groove and play sekeluarga

3. Talkshow Inspiratif & Sesi Edukasi

Untuk para orang tua, Parentalk Festival menghadirkan sesi talkshow yang inspiratif dengan pembicara utama Nucha Bachri (Co-Founder & CEO Parentalk) dan Ario Pratomo. Dengan gaya santai tapi bermakna, mereka akan berbagi pandangan tentang komunikasi positif dalam keluarga, menjaga koneksi di era digital, dan pentingnya kolaborasi orang tua dalam mengasuh anak. Bukan sekadar teori parenting, tapi obrolan hangat yang bikin kita merasa: “Oh iya, ternyata aku nggak sendiri dalam perjalanan jadi orang tua.”

4. Bazaar & Area Bersantai di Alam

Setelah puas bermain dan belajar, saatnya bersantai di Urban Forest Jakarta yang teduh dan asri. Ada banyak pilihan kuliner sehat, minuman segar, serta spot cantik untuk berfoto keluarga. Cocok banget buat recharge setelah seminggu penuh aktivitas, sekaligus menciptakan kenangan hangat bersama si kecil.

Kenapa Parentalk Festival Penting untuk Keluarga?

Dalam era serba digital, waktu berkualitas sering tergeser oleh layar gadget. Padahal, anak-anak membutuhkan interaksi langsung minimal 20–30 menit sehari untuk tumbuh optimal secara emosional dan sosial.

Parentalk Festival mengingatkan kita akan pentingnya pause sejenak, menciptakan momen nyata, bukan hanya screen time. Setiap aktivitas di festival ini dirancang agar orang tua dan anak terhubung kembali lewat sentuhan, tawa, dan percakapan hangat.

Harga Tiket & Info Penting

Parentalk Festival 2025 yang didukung oleh @cimoryindonesia sebentar lagi hadir!

Kalau kamu sama semangatnya kayak kami, langsung aja amankan tiketmu lewat link di atas atau melalui akun resmi @parentalk.id!

Harga Tiket: Rp40.000/orang

Gratis untuk anak di bawah 2 tahun

Setiap pemegang tiket bisa menikmati berbagai aktivitas seru, area bermain, talkshow inspiratif, dan penampilan bintang tamu spesial.

Tips Agar Maksimal Menikmati Festival

  • ✨ Datang lebih pagi agar anak bisa eksplorasi lebih banyak.
  • 👟 Gunakan pakaian yang nyaman untuk bergerak di alam terbuka.
  • 🎨 Biarkan anak memilih aktivitas favoritnya, supaya mereka merasa dilibatkan.
  • 📸 Siapkan kamera atau HP dengan baterai penuh, karena setiap momen layak diabadikan!
instagram @parentalk.id

Parentalk Festival 2025 bukan sekadar event, tapi sebuah pengingat lembut bahwa kebahagiaan keluarga tumbuh dari kebersamaan yang tulus. Yuk, ajak pasangan dan si kecil untuk menikmati hari penuh tawa, musik, dan cinta keluarga di tengah rindangnya Urban Forest Jakarta. 🌳

📅 25 Oktober 2025
📍 Urban Forest Jakarta
Pukul : 08.00-18.00

Dapatkan info & tiket SEKARANG JUGA di Instagram @parentalk.id atau klik link disini . Mari kita Groove and Play — menari dalam harmoni, tertawa dalam cinta, dan membawa pulang kenangan yang tak terlupakan. Sampai jumpa di Parentalk Festival 2025! 💕
Share:

Bukan Cuma Harta: Pola Asuh Narsistik Orang Tua yang Merenggut Mental Anak

youtube: Sabrina Anggraini

Pernah nggak sih kamu merasa sangat lelah secara mental, bahkan ketika fisik sebenarnya nggak ngapa-ngapain? Atau mungkin, kamu sering meledak marah ke anak, dan menyesali tindakan itu kemudian? Hati-hati, kelelahan ini mungkin bukan sekadar kurang tidur, tetapi akumulasi dari beban mental tak terlihat (invisible mental load) dan luka masa lalu yang tanpa sadar memengaruhi cara kamu mengasuh.

Dalam sebuah diskusi mendalam bersama host Sabrina Anggraini dan narasumbernya dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ, seorang dokter kejiwaan, topik toxic parenting dan bahaya pola asuh narsistik dikupas tuntas. Yuk, kita bahas poin-poin penting yang harus kita sadari dan pelajari untuk memutus rantai trauma dalam keluarga. Kalian bisa nonton selengkapnya di channel youtube Sabrina Anggraini yang berjudul Kenali Toxic Parenting: Bahaya Pola Asuh Tak Sadar | #BossMama Ep. 18

1. Beban Mental Tak Terlihat: Musuh Tersembunyi Ibu

Ibu sering kali menjadi manajer utama di kepala keluarga, memegang kendali atas semua beban mental: jadwal makan anak, deadline pekerjaan, urusan rumah tangga, hingga janji temu dokter. Inilah yang disebut invisible stress of motherhood.

Jika beban ini terus-menerus dipikul sendiri tanpa pengakuan dan dukungan, burnout tak terhindarkan. Kelelahan mental ini bisa membuat kita rentan meledak dan tanpa sadar melampiaskan stres kepada anak atau pasangan.

2. Jeda dari Heroism Mulai Mencintai Diri Sendiri

Banyak perempuan terperangkap dalam ekspektasi untuk menjadi "Superwoman" atau pahlawan (heroism) di rumah. Kita merasa harus mampu mengatasi semua masalah dan tidak boleh terlihat lemah di mata keluarga.

Padahal, mencari pertolongan bukanlah tanda kelemahan. Justru, itu adalah bukti bahwa kamu mencintai diri sendiri dan berkomitmen menjadi orang tua yang lebih stabil. Mengambil jeda dan meminta bantuan, baik dari pasangan maupun profesional, adalah langkah penting untuk mengisi ulang "energi mental" kamu.

3. Healing Diri yang Memutus Rantai Warisan Luka

Perjalanan menjadi ibu sering kali membuka kembali kotak luka masa kecil yang belum tuntas. Jika kamu dibesarkan dalam lingkungan yang keras atau penuh trauma, ada kecenderungan untuk memiliki toleransi yang lebih tinggi terhadap perilaku toxic dari pasangan atau secara tidak sengaja mengulangi pola asuh yang sama.

"Proses tumbuh kembang anak secara kesehatan jiwa dimulai dari perut ibunya."

Jika ibu tidak bahagia atau stres, proses neuro-development anak pun bisa terganggu. Oleh karena itu, healing diri adalah tanggung jawab utama kamu, agar luka lama tidak menjadi warisan yang ditransfer ke generasi berikutnya.

4. Waspada Pola Asuh Narsistik (Narcissistic Parenting)

Pola asuh narsistik terjadi ketika orang tua secara tidak sehat menjadikan anak sebagai perpanjangan diri untuk memenuhi kebutuhan emosional atau citra diri mereka. Beberapa contoh perilaku yang harus kamu waspadai:

1. Guilt Trip dan Manipulasi

"Mama sudah berkorban banyak, kok kamu nggak bisa nurut sih?" Kalimat ini membuat anak tumbuh dengan perasaan bersalah yang kronis (guilty trip), merasa tidak pernah cukup baik, dan dimanipulasi agar menuruti kemauan orang tua.

2. Pujian Berlebihan (Overpraise)

Anak yang terlalu sering dipuji berlebihan atau sebaliknya, diabaikan (overneglect), berpotensi tinggi tumbuh dengan sifat narsistik. Pujian harus berbasis prestasi nyata (misalnya, "Keren, kamu buang sampah di tempatnya!"), bukan pujian kosong berdasarkan eksistensi semata.

3. Favoritism (Anak Emas vs. Kambing Hitam)

Membandingkan anak (Golden Child vs. Scapegoat) menciptakan pola yang sangat ekstrem. Anak emas rentan tidak bertanggung jawab, sementara anak kambing hitam tumbuh dengan masalah mental karena selalu menjadi pihak yang disalahkan.

5. Peran Krusial Ayah dalam Pembentukan Karakter

Seringkali, ayah hanya dilihat sebagai penyedia nafkah (materi). Padahal, peran ayah sangat vital dalam membangun attachment sehat, melatih empati, sosialisasi, dan mekanisme coping (cara mengatasi masalah) pada anak.

Kehadiran ayah bukan hanya soal kuantitas waktu, tetapi kualitas keterlibatan. Ayah harus aktif terlibat, bertanya tentang perasaan, dan membangun rasa aman (bukan hanya cinta) agar anak tidak tumbuh dengan anxious attachment atau ketidakpercayaan pada relasi.

6. Komunikasi dan Batasan (Boundary) yang Jelas

Prinsip utamanya: "Tidak ada bluetooth dalam rumah tangga." Jangan berharap pasangan mengerti kode atau pikiran kamu. Biasakan difficult conversation yang sehat seperti bicara langsung, jelas, dan to the point, bukan hanya kode-kodean.

  • Latih Assertive Communication: Bicara to the point tentang masalah yang ingin diselesaikan, daripada bertele-tele atau menyampaikannya dalam bentuk kemarahan terselubung.
  • Gunakan Teori SMART untuk menyelesaikan konflik (Specific, Measurable, Achievable, Realistic, Time-restriction).

Penting untuk suami atau istri menjadi "gerbang" informasi. Jika ada masalah atau teguran, pastikan keluarga besar menyampaikannya melalui kamu, bukan langsung ke pasangan kamu. Hal ini mencegah intervensi yang merusak dan memelihara hubungan baik antar menantu dan mertua.

Selain itu, hindari curhat masalah rumah tangga ke keluarga besar. Ketika kamu sudah memilih memaafkan dan bertahan, keluarga kamu mungkin masih menyimpan sakit hati, yang justru akan memperkeruh suasana.

7. Memilah Informasi untuk Anak

Anak tidak perlu tahu semua masalah orang dewasa. Berikan mereka informasi yang relevan dan berdampak pada kehidupan mereka, serta masalah yang memang bisa mereka bantu hadapi.

Boleh Diceritakan: Masalah ekonomi yang mengharuskan uang jajan diturunkan.

Tidak Perlu Diceritakan: Detail perselingkuhan, proses perceraian yang heboh, atau konflik serius orang dewasa yang hanya akan membebani mental anak.

Capek Itu Wajar, Healing Itu Kekuatan

Menjadi orang tua adalah perjalanan yang melelahkan dan penuh tantangan, itu wajar.

Jika kamu merasa kewalahan atau stuck dengan luka lama, jangan ragu mencari pertolongan profesional (psikolog atau psikiater). Mencari bantuan adalah bentuk tanggung jawab tertinggi kepada diri sendiri dan generasi selanjutnya.

Pola asuh terbaik bukanlah soal kesempurnaan, tapi soal bagaimana kamu hadir secara mental dan emosional untuk anak, setelah berhasil berdamai dengan luka diri sendiri. Putuskan rantai trauma itu, sekarang juga.

Bagaimana pendapat kamu, adakah toxic habit yang selama ini tanpa sadar kamu lakukan? Yuk, mulai proses healing bersama!


Share:

Dijuluki 'Ubin Masjid', Intip Gaya Parenting Mama Marini yang Mendidik Luthfi Tembus Kampus Terbaik Korea (KAIST)!

source: youtube Nikita Willy Official

Banyak orang mulai mengenal Luthfi Bima Putra dari ajang COC (Clash of Champions). Sosoknya langsung mencuri perhatian: wajah yang teduh, sikap rendah hati, dan cara bicara yang menenangkan membuat banyak orang jatuh hati. Namun, di balik pesonanya, Luthfi bukan sekadar mahasiswa berparas menarik. Ia adalah anak muda berprestasi yang kini menempuh studi di KAIST, Korea Selatan, dengan double major Matematika dan Teknik Elektro. Lebih dari itu, kisahnya bersama sang ibu, Mama Marini, menyimpan banyak pelajaran berharga tentang parenting, disiplin, iman, dan kesehatan mental. Artikel ini akan mengulas poin-poin penting dari perjalanan Luthfi dan gaya parenting Mama Marini yang bisa menjadi inspirasi, baik untuk orang tua maupun anak muda Indonesia. 

Perjalanan dan Prestasi Luthfi

profil Luthfi COC | Instagram Luthfi Bima Putra

1. Dari Jogja ke KAIST, Korea Selatan

Tidak banyak mahasiswa Indonesia yang bisa menembus KAIST (Korea Advanced Institute of Science and Technology), sebuah kampus riset bergengsi dunia. Luthfi termasuk salah satu dari sedikit anak muda Indonesia yang berhasil kuliah di sana. Tidak hanya itu, ia mengambil double major: Matematika dan Teknik Elektro.

Perjalanan ini tentu tidak diraih dengan instan. Sejak kecil, Luthfi sudah terbiasa dengan pola belajar yang disiplin dan tekun, hasil dari arahan Mama Marini.

Baca juga: Bukan Cuma Harta: Pola Asuh Narsistik Orang Tua yang Merenggut Mental Anak

2. Senang Ujian Esai, Bukan Pilihan Ganda

Ada kebiasaan menarik dari Luthfi. Saat sekolah, ia lebih memilih ujian esai dibanding pilihan ganda. Alasannya, di ujian esai ia bisa menjelaskan jawabannya dengan detail, bahkan jika nilainya kurang sesuai, ia bisa melakukan “pembelaan”. Sifat kritis inilah yang kelak membantunya dalam dunia akademik.

3. Sistem Belajar Anti Mainstream

Mama Marini menerapkan sistem belajar sederhana tapi efektif. Setiap hari, Luthfi diminta membaca buku pelajaran tanpa distraksi selama 1–2 jam. Setelah itu, Mama akan mengetes hafalannya. Metode ini bukan hanya melatih fokus, tapi juga menumbuhkan kepercayaan diri dalam menghadapi pelajaran.

4. Langganan Lomba Sejak SD

Prestasi Luthfi | https://kemenag.go.id/

Sejak kelas 1 SD, Luthfi sudah rajin ikut lomba. Menurutnya, lomba itu seru dan menantang. Mental kompetitif yang sehat ini membuatnya terbiasa menghadapi tekanan, sekaligus melatih keberanian untuk tampil.

Ketenangan, Iman, dan Mental Health

Selain akademik, aspek spiritual dan kesehatan mental juga menjadi pilar utama dalam perjalanan Luthfi. Mama Marini tidak hanya fokus pada prestasi akademik, tetapi juga memastikan anak-anaknya tumbuh dengan hati yang tenang, iman yang kuat, dan mental yang sehat.

1. Belajar Setelah Tahajud

Luthfi punya rutinitas istimewa: belajar setelah salat tahajud. Awalnya ia mencoba karena merasa itu amalan yang unik, lama-kelamaan menjadi kebiasaan. Bukan hanya menambah keberkahan, tapi juga membuat pikirannya lebih tenang.

Baca juga : Kenapa Keluarga Wajib Datang ke Parentalk Festival 2025? (Bukan Sekadar Acara Biasa!)

2. Menghadapi Kegagalan dengan Bijak

Tidak ada jalan mulus tanpa hambatan. Luthfi pernah terpuruk karena gagal masuk Pelatnas Olimpiade. Ia menangis hebat di Jogja. Namun, Mama Marini tidak menasihati dengan kata-kata panjang. Beliau membiarkan anaknya menangis, lalu mengajaknya jalan-jalan tanpa membahas kegagalan itu lagi. Fokus diarahkan ke masa depan.

3. Dari Panikan Jadi “Ubin Masjid”

 Luthfi mode serius | Instagram Luthfi Bima Putra

Julukan “Ubin Masjid” datang karena Luthfi terlihat tenang saat lomba. Namun kenyataannya, dulu ia adalah anak yang panikan. Perubahan ini menunjukkan bagaimana latihan mental dan kebiasaan menghadapi tekanan bisa membentuk karakter baru.

4. Mama sebagai Teman Curhat

instagram @momscorner.nwip


Satu hal yang luar biasa: Luthfi selalu menjadikan Mamanya tempat curhat pertama. Baginya, Mama bukan hanya orang tua, tapi juga sahabat. Kuncinya, menurut Mama Marini, sederhana: dengarkan dulu keluh kesah anak, baru beri saran seperlunya.

Quotes Favorit Luthfi

Prinsip hidup yang selalu dipegang Luthfi adalah:

"Istiqomahlah terhadap pendirianmu, berlapang dadalah terhadap opini orang lain."

Prinsip ini membantunya bertahan di negeri orang, menghadapi perbedaan pandangan, sekaligus menjaga dirinya tetap rendah hati.

Hikmah yang Bisa Kita Ambil

Instagram @momscorner.nwip



Dari kisah Luthfi dan Mama Marini, ada banyak pelajaran berharga yang bisa diambil:

1. Disiplin sejak kecil membentuk karakter kuat
Membaca rutin, menjauhkan gadget, hingga ikut lomba membuat anak terbiasa berjuang dan fokus. Inilah yang melatih mereka agar tidak mudah panik dan tetap tenang saat menghadapi tekanan.

2. Hadiah tidak harus mewah, tapi bermakna
Buku sederhana bisa menumbuhkan hobi membaca seumur hidup.

3. Iman adalah pondasi keberhasilan
Rutinitas tahajud menjadi sumber energi batin yang membuat Luthfi tenang dan percaya diri. Sejak dini, agama dan akademik wajib diseimbangkan, karena keduanya berjalan beriringan.

4. Orang tua adalah sahabat terbaik anak
Mendengarkan keluh kesah anak tanpa menghakimi jauh lebih berharga daripada memberi ceramah panjang. Saat anak jatuh (mengalami kegagalan), biarkan mereka menangis sejenak, lalu alihkan perhatiannya dengan kegiatan yang menyenangkan. jangan bahas kekalahan terus-menerus!

5. Kemandirian adalah bekal tak ternilai
Mendaftarkan anak ke sekolah asrama adalah cara melatih kemandirian dan sosialisasi sejak SMP, membuat mereka siap hidup jauh dari orang tua.

6. Keberhasilan adalah hasil kerja sama
Kekompakan Ayah dan Bunda dalam mendidik, membagi tugas, dan mendukung minat anak adalah kunci utama, bukan hanya peran salah satunya saja.

Hai buat kamu yang ingin menyaksikan kisah inspiratif Luthfi Bima Putra dan Mama Marini secara langsung, bisa menontonnya di youtube Nikita Willy Official yang berjudul #momscorner 64 Mama Marini & Luthfi Bima Putra | Fakta Menarik Hingga Dijuluki "Ubin Masjid". Artikel ini aku rangkum dari podcast Nikita Willy Official.

Share:

Perkenalkan Karakter Animasi Baru Zuzhu dan Zazha di Frisian Flag


Zuzhu dan Zazha..
Teman baru kita semua...
Serunya dapat terus...

Itu kalimat yang ada di iklan frisian flag. Ponakan ku sangat tau itu. Bahkan ponakan ku yang tahu lebih dulu dibanding aku.

Karakter Zuzhu dan Zazha Frisian Flag


Jadi, pada tanggal 29 September 2019 aku menghadiri event "The Launch of Zuzhu dan Zazha karakter animasi edukatif Frisian Flag yaitu Zuzhu dan Zazha di TMII. Mendengar nama kedua animasi tersebut, menurutku itu mudah di hafal oleh anak-anak.

Karakter animasi Zuzhu dan Zazha terinspirasi dari tetesan susu yang memiliki banyak manfaat kebaikan. Makanya, warna kedua tokoh ini adalah putih. Zuzhu memakai pakaian berwarna biru sedangkan Zazha memakai pakaian pink.

Zuzhu memiliki karakter sosok yang kuat dan berani, Zazha sendiri memiliki kecerdasan tinggi dan rambut yang super.

"Memanfaatkan teknologi dan digitalisasi yang saat ini lekat dengan anak-anak, duo karakter Zuzhu dan Zazha juga hadir dalam bentuk cerita inspiratif pada format dan seri film pendek. Kami berharap kehadirian sosok Zuzhu dan Zazha dapat menjadi alternatif konten edukasi menarik bagi anak, guna menanamkan pesan budi pekerti yang baik, membiasakan pola hidup sehat, sekaligus pengenalan terhadap susu sebagai pilihan minuman sehat dan aman, yang mendukung penerapan gaya hidup sehat sejak dini" ujar Aliah Shalihah


Dua karakter ini ada di kemasan baru susu cair Frisian Flag Milky yang hadir dalam dua pilihan ukuran yaitu 115 ml dan 180 ml, dengan dua varian rasa yaitu rasa cokelat dan stroberi yang banyak diminati oleh anak-anak.

Frisian Flag juga membuat animasi Zuzhu dan Zazha ke dalam e-comic dan film pendek animasi yang mengisahkan cerita edukatif dan inspiratif. Kehadiran dua karakter ini sebagai upaya menanamkan kebiasaan budi pekerti sejak dini.

Menurut Psikolog, Putu Andani, M. Psi mengatakan bahwa karakter animasi dapat menjadi salah satu media untuk mengajarkan cara menanam perilaku baik dengan cara yang menyenangkan di zaman era digital ini.

Menggandeng Alfamart untuk Berkelaborasi

Frisian Flag Indonesia menjalin kemitraan dengan salah satu jaringan ritel ternama di Indonesia,  Alfamart.

Kolaborasi dengan Alfamart, gelar aktivitas menggambar dan mewarnai animasi Zuzhu dan Zazha melibatkan 16.000 anak di 16 Kota di Indonesia.

Frisian Flag mencetak Rekor MURI 



Hari yang sama, Frisian Flag berhasil mendapat rekor Muri atas pelaksanaan The Launch dan lomba mewarnai di 6 kota.

Frisian Flag pernah meraih 3 rekor muri yaitu:

  • Komitmen Keluarga Minum Susu Terbanyak.
  • Buka Puasa Bersama 5000 Keluarga Perternak
  • Air Mancur Tertinggi Kental Manis Cokelat
Share: