Mending Les Privat atau Ruangguru? Ini Pertimbangannya



Belajar adalah investasi terbaik untuk masa depan. Tidak heran kalau banyak orang tua maupun siswa rela mengeluarkan biaya untuk ikut les tambahan di luar sekolah. Tujuannya jelas, supaya nilai lebih bagus, paham materi lebih cepat, dan siap menghadapi ujian. Karena belajar dari sekolah saja kurang bisa memahami pelajaran.

Nah, pertanyaan klasik pun muncul: lebih baik ikut les privat atau berlangganan aplikasi belajar online seperti Ruangguru?. Keduanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dalam artikel ini, aku akan membahas secara detail supaya kamu (atau anakmu) bisa memilih yang paling cocok.

1. Fleksibilitas Waktu

sumber:https://www.hadirr.com

Les Privat:

Biasanya punya jadwal tetap sesuai kesepakatan dengan guru. Kalau siswa berhalangan, harus reschedule. Tapi reschedule kadang sulit kalau guru punya jadwal padat.

Ruangguru:

Bisa belajar kapan saja. Tinggal buka aplikasi, pilih materi, dan langsung belajar. Cocok banget untuk anak atau pelajar yang jadwalnya padat, atau tipe yang suka belajar malam hari.

Dilihat dari segi fleksibilitas waktu, Ruangguru jelas lebih unggul.

2. Biaya

Banyak orang tua bilang les privat itu mahal.

Kisaran harga les privat online per pertemuan Rp. 75.000 - Rp. 250.000. jadi selama sebulan bisa sekitar Rp. 1000.000 - Rp. 2000.000.

Sedangkan Ruangguru mulai Rp. 600.000 - Rp. 1.250.000 per tahun. ingat ini per tahun loh. Jadi kesimpulannya dari segi biaya, Ruangguru jauh lebih ramah kantong.


3. Kualitas Pengajar

Les Privat:

Guru biasanya mahasiswa atau tenaga pengajar profesional. Kualitas bisa sangat bagus, tapi juga bisa standar tergantung siapa yang mengajar.


Ruangguru:
Semua pengajar sudah diseleksi. Banyak dari mereka adalah guru berpengalaman atau lulusan kampus ternama. Selain itu, materi dikemas dalam bentuk video animasi sehingga lebih menarik.

Kalau ingin variasi dan metode modern, Ruangguru bisa jadi pilihan.

4. Materi Belajar




Les Privat:
Materi mengikuti buku sekolah atau permintaan siswa. Kadang hanya fokus pada PR dan soal latihan.

                                        

Ruangguru:
Materinya terstruktur: ada video, rangkuman, latihan soal, dan tryout. Bahkan ada fitur jadwal belajar otomatis yang bisa menyesuaikan target siswa.

Untuk persiapan jangka panjang (misalnya UTBK atau ujian sekolah), Ruangguru lebih sistematis.

5. Interaksi

Les Privat:
Ada tatap muka langsung. Siswa bisa langsung bertanya, dan guru bisa menilai pemahaman siswa dari ekspresi maupun responnya.

Ruangguru:
Ada fitur Ruangguru Privat (live teaching) untuk interaksi langsung, tapi tidak selalu se intens les tatap muka. Namun, fitur forum tanya jawab dan live class bisa membantu.

Kalau anak butuh perhatian ekstra atau tipe yang cepat bosan, kombinasi keduanya bisa lebih efektif.

6. Motivasi dan Disiplin

Les Privat:

Karena ada guru datang, siswa “terpaksa” belajar sesuai jadwal. Ini bagus untuk anak yang suka menunda-nunda.

Ruangguru:

Harus ada kesadaran dari siswa untuk membuka aplikasi dan belajar. Untungnya, Ruangguru punya fitur pengingat belajar yang bisa membantu.

Kalau anak mandiri, Ruangguru sudah cukup. Kalau anak mudah terdistraksi, mungkin perlu pengawasan orang tua.


7. Kenyamanan Belajar

Kenyamanan belajar salah satu hal yang penting untuk fokus memahami apa yang dipelajari. Jika banyak gangguan nih jadi sulit konsentrasi dan hilang minat belajar.

Les Privat:

Kadang harus menyiapkan ruangan khusus, ada gangguan, atau guru tidak cocok dengan anak.

Ruangguru:

Belajar cukup dengan HP/laptop dan internet. Tidak ada rasa sungkan, anak bisa ulang-ulang materi sesuka hati.

Kesimpulan: Pilih Mana?

Jawabannya tergantung kebutuhan.

  • Kalau ingin tatap muka langsung dan fokus penuh, les privat bisa jadi pilihan.
  • Kalau ingin hemat, fleksibel, dan materi lengkap dengan teknologi modern, Ruangguru adalah solusi terbaik.
  • Bahkan, banyak orang tua sekarang memilih kombinasi keduanya: anak ikut Ruangguru untuk belajar mandiri setiap hari, lalu ditambah les privat untuk mata pelajaran yang dirasa paling sulit.

Kalau saat ini kamu masih bingung, aku pribadi merekomendasikan untuk mulai dulu dengan Ruangguru. Alasannya Kenapa?

  1. Lebih hemat biaya.
  2. Bisa dicoba langsung tanpa harus komitmen jangka panjang.
  3. Cocok untuk pelajar SD, SMP, SMA, bahkan persiapan UTBK.


Kamu bisa langsung coba berlangganan Ruangguru lewat link ini atau masukkan kode MAKINJAGO biar kamu makin jago belajarnya.

Share:

Cara Menghasilkan Uang dari Foto: Hobi Jadi Cuan

 Hai

Welcome to the freelance world! 

Sejak aku resign dari pekerjaan dan fokus jadi seorang Ibu Rumah Tangga (IRT), aku mulai mencari cara supaya tetap produktif dan bisa punya income dari rumah. Akhirnya aku sadar, ternyata hobi sederhana seperti motoin pakai smartphone bisa banget jadi peluang kerja.

Awalnya, aku hanya foto-foto untuk fun aja, abadikan momen anak, makanan, atau daily vibes di rumah. Tapi lama-lama, galeri penuh, memori HP jadi sesak, dan kadang fotonya malah kehapus. Sayang banget, kan? Nah, instead of cuma numpuk di galeri, kenapa nggak dicoba di convert jadi cuan?

Di blog ini, I’ll share my journey dan beberapa cara menghasilkan uang dari foto. Mulai dari jual foto di website microstock (Shutterstock, Adobe Stock, iStock, dll.), ikutan photo contest, sampai buka jasa foto produk untuk UMKM lokal. Good news: semuanya bisa dikerjain dari rumah, no need kamera mahal, cukup modal HP dan sedikit kreativitas.

Yang bikin makin happy, ternyata dunia fotografi ini bukan cuma soal uang. It’s also about confidence dan kepuasan diri. Rasanya amazing banget waktu ada yang download fotoku pertama kali di microstock, meskipun cuma dapat receh, tapi priceless rasanya karena itu hasil karya sendiri.

So, kalau kamu juga punya banyak foto yang cuma ngendap di galeri, don’t just delete them. Believe me, dari tumpukan foto itu bisa muncul pintu rezeki baru. Let’s turn your hobby into money and make your gallery works for you! .

1. Jual Foto di Website Microstock

Yap, mungkin masih banyak yang belum familiar dengan website jual foto. Aku sendiri awalnya tahu dari sebuah berita viral, ada orang yang konsisten upload foto selfie selama bertahun-tahun dan dijual di platform microstock. Hasilnya? Nggak nyangka bisa jadi penghasilan besar!

Dari situ aku mulai cari tahu lebih dalam, ternyata ada beberapa platform populer untuk jual foto, seperti Shutterstock, Adobe Stock, iStock, dan masih banyak lagi. Di antara semuanya, aku pribadi paling merekomendasikan Shutterstock karena proses daftarnya cukup mudah untuk pemula dan pasarnya sangat luas.

Buat kamu yang mau langsung coba, bisa klik link ini untuk daftar: Daftar jadi kontributor Shutterstock.

Tips dari pengalaman pribadi:

  • Foto dengan tema makanan, gaya hidup, pemandangan, teknologi, dan parenting paling banyak dicari.
  • Jangan upload foto yang ada merek dagangnya (logo, tulisan brand).
  • Usahakan foto terang, jelas, dan minimal diedit biar terlihat natural.

2. Ikut Lomba atau Kontes Foto

Banyak brand, komunitas, bahkan pemerintah mengadakan lomba foto dengan hadiah menarik. Selain uang, kadang hadiahnya berupa gadget, voucher, atau produk sponsor. Cari informasi lomba di media sosial atau situs resmi komunitas fotografi. Bonus: bisa nambah portofolio juga!

3. Jual Jasa Foto Freelance

Kalau kamu suka motret orang, produk, atau acara, kamu bisa buka jasa freelance. Contohnya: foto wisuda, foto keluarga, prewedding, atau foto produk UMKM. Promosi bisa lewat media sosial atau marketplace jasa seperti Fiverr dan Sribulancer. Tidak harus punya studio, cukup kamera dan sedikit kreativitas, hasilmu bisa menarik banyak klien.

4. Jual Cetakan atau Produk dari Foto

Fotomu bisa dicetak jadi: 
  • Wall art (hiasan dinding)
  • Kalender
  • Kartu ucapan
  • Merchandise seperti tote bag, mug, atau bantal
Banyak platform print-on-demand yang bisa membantu kamu mencetak dan menjual, tanpa perlu stok barang di rumah.

5. Monetisasi di Media Sosial

Instagram, TikTok, atau Pinterest bisa jadi etalase karya foto. Jika followermu banyak, Brand bisa mengajakmu kerjasama (endorsement atau paid promote). Kamu bisa buat tutorial fotografi, tips editing, atau behind the scene. Bahkan bisa buka kelas online untuk pemula.

6. Buat Blog atau Website Foto

Kalau kamu suka menulis, kombinasikan foto dengan blog pribadi. Tulis cerita perjalanan, review tempat, atau tips fotografi. Blog bisa dimonetisasi lewat iklan (Google AdSense), afiliasi, atau jual jasa/foto digital.

Hobi motret bisa banget jadi jalan rezeki. Kuncinya konsisten, punya gaya khas, dan berani mempromosikan karya. Tidak harus punya kamera mahal, yang penting kualitas foto dan kreativitas.
Share:

Rumah Seharusnya Aman, Tapi Nyatanya…

"Katanya rumah tempat paling aman. Tapi kok justru di sana, banyak anak yang paling terluka?"

Beberapa hari ini, pikiranku penuh. Bukan karena lelah jadi ibu rumah tangga, bukan juga karena drama gosip tetangga… tapi karena satu berita yang bikin hati benar-benar hancur: anak jadi korban kejahatan seksual dari keluarganya sendiri.

Ayah, paman, kakek—bahkan ada yang satu rumah. Gimana bisa? 😢

Orang yang seharusnya jadi pelindung, malah jadi pemangsa.

Sebagai ibu, aku cuma bisa membayangkan… kalau itu terjadi ke anakku sendiri, atau anak tetanggaku, atau anak siapa pun, rasanya nggak kuat. Luka yang dalam, trauma yang bisa kebawa seumur hidup.

Ternyata, Bahaya Bisa Ada di Dalam Rumah

Kita sering ngerasa, asal anak-anak di rumah, pasti aman.

Padahal, banyak kasus yang justru terjadi di dalam rumah sendiri. Pelakunya bukan orang asing, tapi orang dekat. Kadang, bahkan serumah. Menyeramkan ya?

Menurut data dari KPAI, lebih dari 60% pelaku kekerasan seksual terhadap anak adalah orang dekat. Itu artinya, rumah nggak selalu jadi tempat yang aman… kecuali kita yang benar-benar menjaganya.

Dan yang bikin tambah miris, kadang suara anak malah dimatikan sama ibunya sendiri.

"Jangan bikin malu keluarga."

"Ayahmu nggak mungkin kayak gitu."

"Udah, diem aja, ya?"

Sakit. Anak terluka, tapi malah disuruh diam.


Jaga Fitrah Anak, Jangan Sampai Rusak karena Lalai Kita

Anak-anak lahir dalam keadaan suci. Mereka nggak tahu apa-apa. Tugas kitalah yang harus menjaga. Jangan sampai kita yang abai, akhirnya bikin fitrah mereka rusak.

Kata Nabi Muhammad ï·º:

"Setiap kalian adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban."

(HR. Bukhari & Muslim)

Artinya, kalau anak kita sampai kenapa-kenapa, dan kita tahu tapi cuek, itu bukan cuma salah dunia… tapi juga tanggung jawab kita di akhirat. 😔


Saatnya Nggak Cuma Prihatin, Tapi Juga Peduli

Kadang kita mikir, “Ya Allah, kasihan banget anak itu.” Tapi setelah itu… kita scroll ke berita lain, atau lanjut masak. Nggak salah, tapi kalau kita cuma jadi penonton, perubahan nggak akan pernah terjadi.

Mulai sekarang, yuk lebih waspada.

Dengerin anak saat mereka ngomong. Jangan anggap remeh perasaan mereka.

Ajarkan tentang aurat, tentang bagian tubuh mana yang nggak boleh disentuh siapa pun.

Dan kalau ada yang janggal, jangan tutup mata. Lebih baik dicurigai sekarang daripada menyesal nanti.


Penutup: Ini Nyata, Ini Dekat

Jujur, nulis ini bikin hati campur aduk. Tapi aku percaya, kita perlu saling mengingatkan.

Anak-anak itu amanah. Mereka bukan cuma butuh makan dan sekolah, tapi juga butuh perlindungan jiwa dan raga.

“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan jalan yang buruk.”

(QS. Al-Isra: 32)

Yuk, mulai dari rumah kita sendiri.

Jaga, dengarkan, lindungi.

🤲 Semoga Allah selalu menjaga anak-anak kita… dari kejahatan yang semakin nyata di sekitar kita.

Share:

Ketika Pendidikan dan Teknologi Berjalan Beriringan: Inspirasi dari UNY bagi Generasi Pembelajar



Saya memang bukan dari jurusan jurusan pendidikan, tapi semangat mengajar itu tumbuh sejak SMA, waktu saya sering memperhatikan cara Bu Melly (guru Kimia) mengajar dan memperhatikan siswa-siswa di kelas. Terima kasih Bu Melly, Ibu adalah inspirasi saya sampai sekarang. 

Saat kuliah, saya dapat kesempatan mengajar anak-anak SD lewat program KKM. Walaupun masih belajar, pengalaman itu bikin saya makin yakin kalau dunia pendidikan memang jalan saya. Dari sanalah semuanya mulai, sebelum akhirnya saya resmi jadi guru.

Tahun 2021, akhirnya saya resmi jadi guru IPA di salah satu SMP swasta di Kabupaten Tangerang. Yap, waktu itu masih masa pandemi. Suasana belajar masih serba daring. siswa-siswa belajar dari rumah. 

Pembelajaran daring

Buat saya, ini tantangan yang cukup dag-dig-dug. Baru mulai jadi guru, tapi langsung "dilempar" ke dunia pembelajaran online. Saya bukan cuma harus siap ngajar, tapi juga belajar banyak hal dari nol dari pakai platform belajar, buat materi interaktif, sampai cari cara biar murid tidak bosan lihat layar terus. 

Tapi justru dari situ, saya banyak belajar. Ternyata jadi guru di era digital itu butuh adaptasi cepat, kreativitas dan pastinya stok sabar ekstra tentunya hehe. 

Kalau kata para ahli pendidikan, transformasi teknologi di sekolah bukan cuma soal ganti alat atau platform, tapi bagaimana teknologi bisa mengubah cara belajar dan mengajar secara mendasar. Saya sempat membaca tentang model SAMR (Substitution, Augmentation, Modification, Redefination) yang menggambarkan empat level penggunaan teknologi dalam pendidikan. Saya hanya berada di tahap Substitution  yaitu mengganti buku cetak dengan PPT lewat Zoom karena keterbatasan sinyal dan waktu. 

Eksperimen sederhana (dokumen pribadi)

Begitu situasi pandemi mulai membaik, sekolah pun mulai membuka kembali kelas tatap muka, meski bertahap. Akhirnya saya bisa ketemu langsung dengan murid-murid yang sebelumnya cuma dilihat dari layar saja. Rasanya campur aduk antara senang, grogi, dan agak bingung juga cara membuat semangat belajar setelah mereka lama belajar di rumah. Saya pun mulai coba berbagai metode dari eksperimen sederhana, nonton video pembelajaran, sampai buat game seru kelompok kecil biar mereka lebih aktif. 

Dalam proses pembelajaran ini, saya juga menyadari betapa pentingnya keseimbangan antara teknologi, pendagogi, dan konten. Ada satu teori bernama TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) yang menjelaskan bahwa guru di era digital perlu memahami tidak hanya isi pelajaran (konten), tetapi juga bagaimana cara mengajarkannya (pedagogi) dan bagaimana manfaatkan teknologi yang tepat. 

Perlahan tapi pasti, saya mulai menemukan gaya mengajar sendiri. Asyik banget rasanya lihat ekspresi mereka yang akhirnya memahami materi, ada yang langsung angkat tangan dengan semangat, tapi yang paling lucu, ada yang sampai ketiduran karena katanya suara saya terlalu lembut dan menenangkan. Dari situ saya sadar kalau jadi guru bukan hanya sekedar profesi, tapi juga perjalanan panjang buat terus tumbuh bersama murid.

Sebagai seorang guru yang telah mengabdi diri dalam dunia pendidikan selama tiga tahun, saya menyadari betul betapa pentingnya adaptasi terhadap perkembangan teknologi dalam proses pembelajaran. Saya juga mulai tertarik mengikuti berbagai inovasi pendidikan, termasuk yang dilakukan oleh kampus-kampus eperti Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Meskipun saya bukan lulusan UNY, namun saya kagum dan mengacungkan jempol melihat bagaimana peran UNY menjalankan tridharma perguruan tinggi secara nyata terutama dalam hal pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang fokus ke transformasi teknologi dalam pendidikan.

Dari sisi pengembangan wawasan, di UNY mempunyai kegiatan seperti Journal Club di Program Studi Teknologi Pendidikan. Disini, dosen dan mahasiswa bersama-sama diskusi soal isu-isu terkini, mulai dari teknologi pendidikan sampai tren IoT. Manfaat kegiatan ini untuk mendorong munculnya ide-ide baru untuk pengembangan media pembelajaran yang relevan sesuai dengan perkembangan zaman. Pendekatan UNY sejalan dengan semangat teori konektivisme, dimana belajar tidak lagi terbats pada ruang kelas, tapi bisa terjadi lewat jejaring digital, komunitas daring dan sumber daya terbuka.

Dalam bidang penelitian, UNY juga aktif mengembangkan media pembelajaran berbasis IoT, seperti trainer IoT yang dirancang untuk membantu mahasiswa memahami teknologi secara praktis. Menurut saya, inovasi semacam ini sangat relevan dengan kebutuhan dunia kerja yang makin digital.


Di sisi pengabdian masyarakat, UNY juga tak kalah aktif. Saya pernah menonton video  Amalia Yunansyah Putri di YouTube saat ia mengajarkan pelajaran matematika untuk siswa kelas empat SD Muhammadiyah Codongcatur. Yang menarik, ia menggunakan pendekatan yang berbeda dari biasanya mulai dari flipbook berbentuk komik, augmented reality, dan penayangan video pembelajaran interaktif. Semua media itu digunakan untuk membantu siswa memahami konsep data. Tujuan pembelajarannya jelas agar siswa bisa lebih percaya diri dalam membaca, memahami dan menyajikan data dengan berbagai cara yang seru, menggunakan berbagai alat multimedia yang sesuai dengan gaya belajar masing-masing. 

SMK N 1 Sedayu menjalin kemitraan strategis dengan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) |https://smkn1sedayu.sch.id/

Upaya UNY memajukan teknologi pendidikan dapat dilihat dari strategi pembelajaran yang mereka terapkan di kampus. Mahasiswa tidak hanya duduk di kampus tau teori, tapi juga langsung praktik di lapangan, termasuk dalam bidang teknologi Internet of Things (IoT). Saya pernah membaca bagaimana UNY aktif menjalin kerja sama langsung dengan sekolah-sekolah. Salah satunya lewat program pelatihan teknologi  IoT untuk penerapan Smart Building di SMK Negeri 1 Sedayu. Dalam program ini, peran dosen dan mahasiswa UNY terlibat langsung dalam melatih guru dan siswa agar lebih siap dan terampil di bidang teknologi dan kelistrikan. Menurut saya, ini jadi contoh nyata bagaimana tridharma perguruan tinggi dijalankan dengan semangat kolaborasi dan dampak langsung bagi dunia pendidikan.

Melihat semua inisiatif ini, saya yakin dan percaya kalau UNY serius membangun ekosistem pendidikan yang melek teknologi dan siap menghadapi tantangan zaman. IoT, AI, media interaktif semuanya bukan hanya jadi bahan kuliah, tapi benar-benar diterapkan dalam berbagai kegiatan nyata yang bermanfaat bagi semua.

Sebagai mantan guru dan kini seorang ibu, saya merasa sangat terinspirasi oleh langkah-langkah nyata yang dilakukan UNY dalam memajukan pendidikan lewat teknologi. Meskipun saya tidak melihat langsung, banyak informasi pendidikan digital bisa benar-benar diwujudkan. Meski saat ini saya tidak lagi mengajar di sekola, semangat untuk terus belajar dan berbagi tetap tumbuh. Karena jadi mendidik bukan cuma soal profesi, tapi soal hati yang terus mau belajar dan mengajak orang lain tumbuh bersama.

Sumber:
https://tp.fipp.uny.ac.id/id/berita/journal-club-prodi-tp-fip-uny
https://scholarhub.uny.ac.id/cgi/viewcontent.cgi?article=1070&context=elinvo
https://www.youtube.com/watch?v=jX7lmpo3INc&t=104s
https://smkn1sedayu.sch.id/post/kerjasama-program-pengabdian-masyarakat-pkm-antara-smk-n-1-sedayu-dan-universitas-negeri-yogyakarta-dalam-peningkatan-kompetensi-smart-building-berbasis-internet-of-things

Share:

Inilah 5 Strategi dan Trik Jitu Meraih Beasiswa Ke Luar Negeri Impianmu!



Punya mimpi kuliah di luar negeri? Mimpi untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri merupakan impian besar bagi banyak pelajar dan mahasiswa Indonesia. Kenapa sih harus kuliah di luar negeri? Soalnya, kuliah di luar itu nggak cuma soal dapet gelar keren aja, tapi juga pengalaman hidup yang luar biasa. Kamu bisa ngerasain belajar di kampus top dunia, ketemu teman dari berbagai negara, dan tinggal di tempat baru yang pastinya bikin kamu lebih mandiri dan terbuka. Selain itu, kuliah di luar negeri juga bisa jadi pintu buat dapetin karier impian, karena banyak perusahaan suka sama orang yang punya pengalaman internasional. Belum lagi kamu bisa sekalian upgrade skill bahasa asing dan nambah koneksi global!. Intinya, kuliah di luar negeri itu bukan cuma soal akademis, tapi juga soal tumbuh jadi versi terbaik dari diri kamu sendiri. 

Bayangin deh...

Kamu lagi duduk di taman kampus Oxford atau Leeds, sambil nyeruput kopi hangat, ngerjain tugas di bawah langit mendung khas Inggris. Weekend, kamu dan teman-teman dari berbagai negara jalan-jalan ke kota tua, masuk museum gratis, atau sekadar nongkrong di kafe kecil yang cozy banget.

Setiap hari kamu belajar di kelas dengan dosen yang ahli di bidangnya, diskusi pake bahasa Inggris, dan dapet wawasan baru yang nggak cuma dari buku—tapi juga dari cara mereka berpikir. Di sela-sela kuliah, kamu bisa ikut kegiatan kampus, explore budaya lokal, sampai terbiasa pakai transportasi umum yang super on time.

Kuliah di Inggris itu bukan cuma belajar, tapi juga soal pengalaman hidup. Rasanya kayak mimpi, tapi bisa banget jadi nyata kalau kamu siap berjuang!. Namun, perjalanan menuju mimpi tersebut tidaklah mudah. Selain nilai akademik dan aktivitas organisasi. salah satu hal jadi penentu utama yaitu kemampuan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Tapi, ikut kursus bahasa tanpa strategi yang jelas justru bisa bikin kamu buang-buang waktu dan uang tanpa hasil nyata. Nah, di sini aku bakal kupas tuntas trik kursus Bimbingan beasiswa ke luar negeri yang gampang diikuti dan udah terbukti bikin banyak orang sukses dapetin beasiswa luar negeri!

Lister adalah platform yang memberikan layanan bimbingan untuk mempersiapkan pelamar dalam mengikuti berbagai jenis beasiswa, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Lister memiliki track record yang baik dengan banyaknya pelamar yang berhasil meraih beasiswa melalui bimbingan mereka. Mentor yang berkompeten dan berpengalaman di bidangnya menjadi nilai lebih yang diberikan.

1. Fokus pada Tes Resmi (IELTS/TOEFL)

Kalau targetmu beasiswa luar negeri, kursus 'Bahasa Inggris Umum' itu kurang nendang, lho!. Skor resmi dari tes kayak IELTS, TOEFL, atau Duolingo English Test itu penting banget buat ngedukung aplikasi beasiswamu.

Lister hadir sebagai platform kursus online yang jago banget buat persiapan tes bahasa kayak IELTS, TOEFL, dan lain-lain. Keunggulannya? 

  1. Kurikulumnya dibuat khusus sesuai target skor yang kamu pengen, jadi belajar makin fokus dan efektif
  2. Pengajar bersertifikasi dan berpengalaman.
  3. Simulasi ujian dan evaluasi mendalam.
Trik jitu: Program IELTS Preparation dari Lister dengan sesi privat, supaya belajar kamu nggak asal-asalan dan hasilnya maksimal!

2. Prioritaskan Materi Writing & Speaking – Kunci Lolos Tes!

Nilai Reading dan Listening seringkali bagus, tapi banyak yang gagal di Writing dan Speaking karena kurang latihan dan bimbingan. Di Lister, kamu akan mendapat:

  1. Sesi speaking 1-on-1 langsung dengan tutor profesional atau native.
  2. Latihan intensif dengan mock speaking tests.
  3. Koreksi tugas writing oleh tutor dengan feedback detail (grammar, coherence, struktur).
Trik jitu: Gunakan rekaman latihan speaking dari Lister untuk evaluasi mandiri atau review 
bersama tutor.

Ohiya, kamu juga bisa memilih jenis kelas yang cocok buat gaya belajarmu. Ada kelas private buat kamu yang ingin fokus 1-on-1 bareng tutor, atau pilih kelas semi private berdua kalau mau belajar bareng sahabat. Mau lebi seru lagi? ada juga kelas semi private bertiga hingga berlima, jadi kamu bisa ajak 1 sampai 4 teman untuk belajar bareng dan patungan biaya kursus. Semua kelasanya diadakan secara online, jadi fleksibel banget!

3. Ikut Kelas Interview Beasiswa: Jangan Anggap Remeh Tahap Ini!



Banyak beasiswa bergengsi seperti LPDP punya tahapan interview. Kursus yang paham proses ini bisa bantu kamu tampil percaya diri dan relevan saat wawancara. Lister juga menawarkan kelas khusus untuk Interview Beasiswa, termasuk:
  1. Sesi simulasi interview.
  2. Tips menjawab pertanyaan tricky.
  3. Kelas public speaking dan storytelling.
    Kelas public speaking dan storytelling adalah program pelatihan yang dirancang untuk membantu kamu mengasah kemampuan berbicara di depan umum dan bercerita dengan cara yang menarik dan efektif.
Trik jitu: Latihan jawab pertanyaan klasik kayak ‘Tell us about yourself’ dan ‘Why should we choose you?’ pakai format STAR (Situation-Task-Action-Result) biar jawaban kamu terstruktur, meyakinkan, dan bikin pewawancara terpukau!

Untuk kamu yang sedang ngincar beasiswa LPDP, Lister punya beberapa pilihan paket kelas, yaitu:
  • Paket Reguler buat persiapan menyeluruh
  • Short Course kalau kamu butuh belajar kilat tapi tetap maksimal
  • Paket Bundling khusus buat kamu yang ingin lanjut S2 atau S3.

4. Belajar Fleksibel dengan Kursus Online Interaktif

Kursus online memberikan fleksibilitas dalam mengatur waktu belajar, namun tetap harus diselenggarakan secara interaktif dan terstruktur agar hasil pembelajaran optimal. Lister hadir 100% online dengan kelebihan seperti:
  1. Jadwal fleksibel (pagi/malam/weekend).
  2. Dashboard pembelajaran yang bisa dilacak progresnya.
  3. Grup belajar dan komunitas sesama pejuang beasiswa.
Trik jitu: Manfaatkan fitur konsultasi gratis untuk menentukan kelas mana yang paling cocok dengan targetmu.

5. Lister Bukan Cuma Tempat Kursus, Tapi Partner Setia yang Siap Membantu  Kamu Sampai Mendaparkan Beasiswa Impian


Selain kemampuan bahasa, kamu juga butuh strategi yang tepat. Di Lister kamu bisa konsultasi tentang berbagai hal, seperti:
  1. Penulisan Motivation Letter dalam Bahasa Inggris.
    Biasanya berisi alasan kuat mengapa kamu tertarik dengan program atau beasiswa yang kamu lamar, serta bagaimana latar belakang dan tujuan kamu mendukung aplikasi tersebut. Surat ini harus ditulis dengan jelas, terstruktur, dan personal agar bisa menarik perhatian pihak penerima.
  2. Penyusunan CV akademik.
  3. Rekomendasi universitas dan program studi.
Lister hadir dengan metode pembelajaran holistik, sehingga tidak sekadar tempat kursus bahasa, melainkan juga partner strategis yang membantu kamu mencapai tujuan beasiswa luar negeri.

Testimoni Para Alumni Lister Raih Beasiswa yang Inspiratif

lister.co.id


Setiap perjalanan sukses selalu diawali dengan tekad dan kerja keras. Kisah inspiratif para alumni yang berhasil meraih beasiswa luar negeri ini membuktikan bahwa dengan persiapan yang tepat dan semangat pantang menyerah, impian untuk belajar di luar negeri bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan. Berikut beberapa testimoni para alumni Lister

"Bimbingan di LISTER benar-benar membantu saya mempersiapkan segala hal untuk mendapatkan beasiswa. Mulai dari latihan tes bahasa, penulisan motivation letter, hingga simulasi wawancara, semuanya diberikan dengan sangat detail dan mudah dipahami. Mentor-mentornya juga sangat ramah dan selalu siap memberikan dukungan. Berkat Lister, saya berhasil meraih beasiswa penuh ke universitas impian saya!"
— Andi, Alumni Bimbingan Beasiswa Lister

"Awalnya saya merasa ragu, tapi setelah mengikuti bimbingan di Lister, saya jadi lebih percaya diri. Materi yang diberikan lengkap dan aplikatif, terutama untuk menghadapi tes bahasa dan wawancara. Saya sangat merekomendasikan Lister bagi siapa saja yang serius ingin mendapatkan beasiswa." — Sari, Alumni Bimbingan Beasiswa Lister

"Bimbingan di LISTER sangat membantu saya memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan dalam proses seleksi beasiswa. Dari latihan tes bahasa sampai strategi wawancara, semuanya diberikan dengan sangat jelas. Saya merasa lebih siap dan akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa ke Australia."
— Dwi, Alumni Bimbingan Beasiswa Lister


Kesimpulan
Mengejar beasiswa study abroad bukanlah hal yang instan. Dari 5 trik tersebut membutuhkan usaha keras, konsistensi, dan manajemen waktu yang baik. Lembaga Lister selalu mengingatkan bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar, dan setiap langkah kecil membawa kita lebih dekat ke tujuan. 

Jangan Berjuang Sendiri, Lister Siap Dampingi. Langsung cek programnya di www.lister.co.id dan konsultasikan target beasiswamu sekarang!. ssttt ini kode promo BLOG25 buat kamu loh.  Jangan peluk mimpi hanya di tidurmu, bangun dan kejar agar ia jadi nyata. SEMANGAT BERJUANG YA!!!!


Share: